26.7 C
Medan
Senin, Mei 20, 2024

Jadikan Sastra dan Mastera Adaptif Terhadap Perkembangan Zaman untuk Dicintai Generasi Muda

Berita HariIni

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Jakarta (buseronline.com) – Seiring perkembangan zaman, seluruh negara anggota Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) mengalami problema yang hampir sama. Minat dan kecintaan generasi muda di kawasan Asia Tenggara terhadap sastra kian menurun sehingga menyebabkan penurunan jumlah sastrawan muda, khususnya kritikus sastra.

Menyadari realitas tersebut, seluruh negara anggota Mastera dalam Sidang ke-27 menyepakati untuk mengembangkan Mastera yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

Upaya ini dilakukan agar sastra lebih dikenal oleh generasi muda dan dapat menumbuhkan bibit-bibit sastrawan muda yang aktif, kreatif, dan mumpuni pada masa depan. Agenda utama Sidang ke-27 Mastera menindaklanjuti hasil putusan Musyawarah Sekretariat Mastera 2023.

Dalam sidang tersebut, para delegasi menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi sastra di kawasan Asia Tenggara saat ini. Minat dan kecintaan generasi muda terhadap sastra kian luntur dan Mastera hanya dikenal oleh kalangan terbatas.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), E Aminudin Aziz berharap melalui Sidang ke-27, seluruh negara anggota Mastera dapat berdiskusi untuk mencari solusi dan bervisi bersama untuk menjenamakan Mastera kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan bibit-bibit sastrawan muda yang kreatif, aktif, dan mumpuni.

“Mastera tidak boleh terlena dengan romantisme masa lalu. Romantisme tidak salah. Namun, Mastera harus tetap bergerak dengan penuh optimisme menyambut masa depan. Optimisme ke masa depan hanya dapat diraih apabila seluruh negara anggota Mastera bersepakat untuk saling bekerja sama dan siap membina generasi muda agar cinta terhadap sastra. Berbekal dari masa lalu, Mastera pasti dapat melompat ke masa depan untuk menumbuhkan bibit-bibit sastrawan muda yang kreatif, aktif, dan mumpuni,” ujar Aminudin.

Selaras dengan pernyataan tersebut, Ketua Delegasi Mastera Brunei Darussalam, Awang Suip, menyampaikan bahwa sastra Mastera harus adaptif dan dapat dipakai oleh seluruh tingkat pendidikan dan pelbagai bidang ilmu. Sesuai dengan objektivitasnya, Mastera harus mengembangkan program-program yang selaras dengan semangat ASEAN dan berdampak besar terhadap masyarakat global.

“Pasca pandemi Covid-19 banyak program Mastera yang tidak dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, Mastera Singapura menjalankan program-program pembinaan secara terbatas kepada kalangan muda secara daring melalui zoom. Contohnya, kelas diskusi, rapat kecil, kuliah sastra, dan seminar daring. Kegiatan daring tersebut sangat efektif dan efisien dana serta dapat menjangkau pelibatan di luar komunitas sastra. Selain itu, Mastera Singapura menginisiasi program-program sastra Mastera secara multibahasa dan tanggap teknologi agar Mastera lebih dikenal di kancah global,” tegas Azhar.

Ketua Delegasi Mastera Azhar Ibrahim Alwee ingin memperkenalkan Mastera dalam berbagai level acara. Hal tersebut diamini oleh Ketua Delegasi Mastera Malaysia, Hazami.

“Dalam acara berlevel internasional, mari, perkenalkan sastra Mastera dengan mengunakan bahasa Inggris dan tetap memperkenalkan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Pada acara level ASEAN, kita utamakan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia agar generasi muda di kawasan ASEAN merasa bangga dan cinta dengan sastra dan bahasanya,” jelas Hazami.

Setuju dengan pernyataan para ketua delegasi tersebut, Aminudin selaku Ketua Sidang ke-27 Mastera, mengajak seluruh anggota delegasi untuk memilah program-program Mastera yang masih sesuai dan dapat dilaksanakan pada 2024 serta menggugurkan program-program yang sudah tidak relevan dan mustahil untuk dilakukan karena faktor keterbatasan di tiap negara anggota.

Adapun agenda Mastera pada 2024 adalah menjalankan program dan kegiatan rutin yang berfokus pada perancangan program sastra Mastera yang berdampak besar dan luas dengan pemanfaatan teknologi. Publikasi masif Mastera melalui media sosial dan menjalin kerja sama dengan universitas-universitas secara lebih luas.

Peningkatan sastra-sastra di kawasan Asia ke level dunia. Penjenamaan kembali Mastera, khususnya bagi generasi muda. Menggencarkan pelatihan kritik sastra.

Tema SAKAT 2024 adalah “Transformasi Sastra dalam Ekonomi Kreatif” (tetap mengedepankan tema yang menarik bagi generasi muda). Tema program penulisan Mastera 2024 tentang penulisan novel dengan mengutamakan pelibatan generasi muda.

Kemudian, menyelesaikan sisipan lembaran Mastera yang belum terselesaikan. Penggiatan penulisan jurnal antarnegara, khususnya antarnegara anggota Mastera, serta program-program Mastera baik dilakukan secara daring, namun, pertemuan luring untuk sidang-sidang kesekretariatan dan sidang umum tetap harus dilakukan. (R)

Berita Lainnya

Selamat Idul Fitri

Berita Terbaru