Medan (buseronline.com) – Yogi Hardi (22) menceritakan pengalamannya saat mengunjungi kantor BPJS Kesehatan Cabang Medan. Awalnya, ia berencana mengubah status kepesertaannya dari peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) menjadi Pekerja Penerima Upah (PPU) setelah mulai bekerja.
Awalnya dirinya mengira prosesnya dapat dilakukan melalui Aplikasi Mobile JKN. Namun, karena belum pernah menggunakan aplikasi tersebut, Yogi memutuskan untuk datang langsung ke kantor cabang agar lebih yakin dan mendapat bantuan langsung.
“Awalnya saya terdaftar sebagai peserta JKN mandiri di bawah tanggungan orang tua. Namun karena sudah bekerja jadi mau ubah jenis kepesertaan saya ini. Sudah saya coba pakai aplikasi, akan tetapi masih ragu dan membuat saya memutuskan untuk datang ke cabang BPJS Kesehatan terdekat saja. Kedatangan saya juga disambut dengan ramah oleh staf BPJS Kesehatan yang membantu saya melalui proses perubahan data ini,” jelas Yogi, Kamis (7/11/2024).
Dengan bimbingan dari pegawai BPJS Kesehatan, Yogi berhasil menyelesaikan proses penggantian statusnya tanpa kesulitan. Ia merasa puas dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan. Menurut Yogi, prosesnya cepat dan sangat membantu. Ia diarahkan untuk memastikan data sudah sesuai, dan juga dijelaskan berbagai fitur Aplikasi Mobile JKN yang sebenarnya bisa memudahkan dirinya ke depan.
“Sebenernya menggunakan BPJS Kesehatan ini tidak hanya untuk kebutuhan pribadi. Saya juga memiliki alasan kemanusiaan dalam berpartisipasi dalam program BPJS Kesehatan ini, meskipun jarang menggunakannya untuk berobat. Bukannya mau menyombongkan diri, tetapi memang sejauh ini alhamdulillahnya saya sehat dan memang jarang menggunakan fasilitas BPJS Kesehatan, apalagi hanya untuk sakit ringan,” cerita Yogi dengan nada santai.
Di balik alasan sederhana Yogi untuk mendaftar menjadi peserta Program JKN, tersimpan kesadaran sosial yang tulus. Dengan penuh keyakinan, Yogi mengungkapkan bahwa dirinya sadar dengan menjadi peserta yang jarang menggunakan Program JKN, iuran yang ia bayarkan bisa membantu peserta lain yang lebih membutuhkan. Meskipun pernah mengalami kendala berupa tunggakan iuran saat masih menjadi peserta mandiri, hal ini tidak menyurutkan niatnya untuk terus berkontribusi dalam Program JKN.
“Saya tidak pernah merasa iuran JKN yang dibayarkan selama ini sia-sia karena jarang digunakan. Justru yang dibayarkan sangatlah bermanfaat karena saya tahu uang yang saya bayarkan bisa membantu orang lain yang sedang sakit parah dan membutuhkan biaya mu medis yang tidak sedikit. BPJS Kesehatan ini semacam gotong royong bagi saya. Mungkin saat ini saya jarang menggunakannya, tapi saya percaya ada orang lain yang sangat terbantu,” ungkap Yogi.
Selain itu, Yogi juga menyebut bahwa terdaftar dalam Program JKN memberikan rasa seperti perlindungan bagi dirinya. Yogi menyampaikan, kalau suatu saat ia membutuhkannya, Program JKN dapat menjadi penyelamat. Menurut Yogi, program tersebut menawarkan semacam jaring pengaman yang bisa diandalkan kapan saja dibutuhkan.
Bagi Yogi, mendaftar BPJS bukan sekadar keperluan pribadi, tetapi juga kontribusi kepada masyarakat. “Dengan mendaftar menjadi peserta, kita ikut berpartisipasi dalam solidaritas sosial yang sangat membantu banyak orang. BPJS Kesehatan ini penting, bukan hanya untuk kita, tetapi untuk seluruh masyarakat Indonesia,” kata Yogi.
Yogi mengajak lebih banyak orang untuk bergabung dalam Program JKN. Meski kesehatan diri sendiri dalam kondisi baik, ada ribuan orang lain yang terbantu oleh iuran yang dibayarkan setiap peserta. Yogi berharap semakin banyak yang menyadari bahwa keberadaan Program JKN bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. (P2)