Jakarta (buseronline.com) – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menggelar kuliah umum bertajuk “Spirit Ramadan dalam Percepatan Perubahan Budaya Kerja Kementerian Kesehatan”.
Acara yang berlangsung di Auditorium Siwabessy, Gedung Prof Sujudi ini bertujuan untuk memperkuat nilai-nilai integritas, disiplin, dan profesionalisme di lingkungan Kemenkes, serta membangun budaya kerja yang transparan dan antikorupsi.
Acara ini menghadirkan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Dr Fitroh Rohcahyanto yang menekankan pentingnya membangun budaya kerja antikorupsi melalui pendekatan agama.
Ia menyampaikan bulan Ramadan merupakan momentum terbaik untuk melatih diri dalam melepaskan kemelekatan terhadap harta serta menumbuhkan kesadaran integritas.
“Ketika kita bicara puasa, sejatinya kita sedang berlatih untuk menahan diri dari segala bentuk kemelekatan, termasuk terhadap harta. Seorang yang bertakwa adalah mereka yang mampu berbagi, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain,” ujar Dr Fitroh di hadapan ratusan peserta yang hadir.
Ia juga mengutip Surat Ali Imran ayat 134, yang menyebutkan bahwa salah satu tanda orang bertakwa adalah mereka yang menginfakkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Menurutnya, prinsip ini juga harus diterapkan dalam etos kerja Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya dalam memberikan pelayanan publik yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Sebagai bagian dari materi kuliahnya, Dr Fitroh memperkenalkan filosofi “IDOLA” sebagai prinsip kerja ASN yang meliputi:
Integritas: Konsisten dalam ucapan dan tindakan.
Dedikasi: Memberikan pelayanan dengan totalitas.
Objektif: Netral dan tidak memiliki kepentingan pribadi.
Loyalitas: Mengabdi untuk kepentingan masyarakat.
Adil: Tidak memihak.
Selain itu, ia juga memperkenalkan konsep “Gatot Kaca”, yaitu prinsip kerja yang responsif, totalitas, komprehensif, dan penuh empati dalam melayani masyarakat.
“Tanpa empati, kita tidak akan mampu memberikan pelayanan terbaik. ASN harus bekerja dengan hati, bukan sekadar menjalankan tugas,” tegasnya.
Wakil Menteri Kesehatan RI Prof Dante Saksono Harbuwono dalam sambutannya menegaskan komitmen Kemenkes dalam meningkatkan budaya kerja yang berlandaskan integritas, loyalitas, dan pelayanan prima.
Ia mengutip Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 188 yang menegaskan pentingnya menjauhi tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme.
“Pencegahan korupsi bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga budaya yang harus kita bangun bersama. Dengan pendekatan agama, kita tidak hanya memperkuat regulasi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral dalam setiap aspek pekerjaan kita,” ujar Prof Dante.
Ia menjelaskan bahwa transformasi internal Kemenkes terus berjalan untuk mempercepat enam pilar transformasi kesehatan, salah satunya dengan menerapkan core values ASN BerAKHLAK guna menciptakan ekosistem kerja yang lebih transparan dan profesional.
Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha menegaskan bahwa reformasi di bidang kesehatan harus diawali dengan reformasi internal.
“Kita harus mengubah mindset dari yang sebelumnya berfokus pada kuratif ke promotif, dari pengobatan ke pencegahan, serta dari layanan kesehatan yang hanya terpusat di kota menjadi lebih merata ke daerah-daerah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kemandirian dalam sektor kesehatan, khususnya dalam produksi alat kesehatan dan obat-obatan dalam negeri.
Namun, menurutnya, semua perubahan ini tidak akan berjalan optimal tanpa adanya reformasi di tingkat internal, terutama dalam membangun budaya kerja yang jujur, transparan, dan antikorupsi.
Acara ini diikuti lebih dari 1.000 peserta dari berbagai unit kerja di lingkungan Kementerian Kesehatan, termasuk Rumah Sakit Vertikal, Poltekkes, Balai Karantina Kesehatan, serta Badan Pengawas Obat dan Alat Kesehatan.
Dengan cakupan yang luas, diharapkan diskusi ini dapat menjadi pemicu bagi seluruh jajaran Kemenkes untuk terus melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas layanan kesehatan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
“Kami berharap acara ini benar-benar membuka cakrawala kita semua dalam terus meningkatkan etos kerja serta membangun budaya kerja yang bersih, transparan, dan dilakukan dengan hati. Karena hanya dengan itu, reformasi kesehatan yang kita jalankan dapat berjalan dengan sukses,” pungkas Kunta.
Dengan semangat Spirit Ramadan, Kementerian Kesehatan terus berkomitmen untuk tidak hanya memperbaiki sistem layanan kesehatan, tetapi juga membangun ekosistem kerja yang lebih profesional, akuntabel, dan bebas dari korupsi. (R)