Tangerang (buseronline.com) – Direktur Tindak Pidana Pelindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPA PPO) Bareskrim Polri, Brigjen Pol Dr Nurul Azizah SIK MSi mengajak para santri untuk berani bersuara dalam menghadapi segala bentuk kekerasan. Hal ini disampaikannya dalam acara Ngabuburit Bersama Santri di Pondok Pesantren Asshidiqqiyah, Tangerang, Selasa.
Dilansir dari laman Humas Polri, Brigjen Nurul menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan nyaman bagi santri. Ia menegaskan bahwa pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda, sehingga harus bebas dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi.
“Sebagai santri, kalian adalah bagian dari generasi penerus bangsa yang harus tumbuh dalam lingkungan yang aman. Jika ada sesuatu yang tidak benar, jika kalian melihat atau mengalami perlakuan yang tidak semestinya, bangkitlah dan bersuaralah!” tegasnya.
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Brigjen Nurul memperkenalkan kampanye “Rise And Speak” untuk mendorong santri lebih berani dalam mengungkapkan kasus kekerasan atau pelanggaran hak mereka.
Rise (Berani Bangkit) – Mendorong santri untuk tidak takut berdiri melawan ketidakadilan.
Speak (Berani Bicara, Selamatkan Sesama) – Menanamkan keberanian untuk melaporkan segala bentuk kekerasan yang dialami atau disaksikan.
Ia juga menyoroti langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam mencegah kekerasan di lingkungan pesantren, di antaranya:
1. Peningkatan Kesadaran dan Edukasi – Santri harus memahami hak-haknya dan tidak ragu untuk berbicara jika mengalami tindakan tidak benar.
2. Peran Pimpinan Pesantren dan Ustaz/Ustazah – Para pengasuh bertanggung jawab menciptakan lingkungan aman dengan pendekatan berbasis kasih sayang dan disiplin tanpa kekerasan.
3. Sistem Pelaporan dan Pelindungan – Dibutuhkan mekanisme yang jelas agar korban kekerasan dapat melaporkan kasusnya dengan aman.
4. Kolaborasi Semua Pihak – Pencegahan kekerasan menjadi tanggung jawab bersama antara kepolisian, pesantren, dan masyarakat.
“Kami dari kepolisian siap mendukung pesantren dalam menciptakan mekanisme perlindungan yang efektif bagi santri. Pencegahan kekerasan adalah tugas kita bersama,” ujar Brigjen Nurul.
Acara yang berlangsung menjelang berbuka puasa ini dihadiri perwakilan kementerian, kepolisian, dan tokoh agama.
Para santri tampak antusias mengikuti sesi diskusi yang membahas hak perlindungan mereka serta pentingnya membangun lingkungan pesantren yang bebas dari kekerasan.
Sebagai penutup, Brigjen Nurul membacakan pantun yang disambut tepuk tangan meriah:
“Bulan Ramadan penuh berkah, bersama santri hati bahagia. Jangan diam jika ada masalah, berani bicara selamatkan sesama.” (R)