Jakarta (buseronline.com) – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan pentingnya agama dan ilmu pengetahuan dalam membangun masyarakat madani. Hal ini disampaikan dalam orasi ilmiah pada acara 2nd Summit Jurnal Ummul Quran yang digelar di Auditorium Wisma Mandiri, Jakarta Pusat, Sabtu.
Menurut Menag, konsep masyarakat madani lebih sesuai diterapkan di Indonesia dibanding civil society yang berkembang di negara-negara Barat yang lebih sekuler.
“Madani berasal dari kata mudun atau madina yang berarti manusia beradab. Peradaban besar tidak lahir dari masyarakat nomaden, tetapi dari masyarakat yang menetap secara permanen. Oleh karena itu, untuk membangun masyarakat madani, kita perlu menata kehidupan beragama yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menag menegaskan bahwa agama memiliki peran krusial dalam membangun karakter bangsa, bukan hanya sebagai pedoman spiritual, tetapi juga sebagai penggerak perubahan sosial.
“Agama harus bisa membetulkan jalan yang menyimpang, meluruskan pemikiran yang bengkok, melembutkan hati yang keras, serta meneguhkan pendirian yang lemah. Jika agama tidak menjalankan fungsi kritisnya, maka ia hanya akan menjadi simbol tanpa substansi,” ungkap Menag.
Ia juga menyoroti pentingnya kemandirian lembaga keagamaan, agar tidak bergantung sepenuhnya pada negara.
“Ketika pemimpin agama atau ormas Islam terlalu bergantung pada negara, maka jangan harap agama bisa menjalankan fungsi kritisnya secara independen. Ini adalah tantangan besar yang harus kita hadapi bersama,” tegasnya.
Menag juga menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi dan peningkatan kualitas pendidikan dalam membangun masyarakat madani yang kuat.
“Ekonomi kita masih menjadi penonton di negeri sendiri. Dalam sektor ilmu pengetahuan, kita juga masih tertinggal. Dari 300 PhD asal Indonesia yang berada di Amerika, hanya satu yang Muslim. Ini menunjukkan bahwa kita harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar umat Islam bisa lebih kompetitif di kancah global,” ujarnya.
Ia juga mengkritisi ketimpangan bidang pendidikan tinggi di kalangan akademisi Muslim, di mana sebagian besar menguasai ilmu sosial, politik, dan agama, sedangkan penguasaan dalam sains dan teknologi masih minim.
“Saat ini, 90% PhD umat Islam di Amerika berasal dari ilmu sosial, politik, dan agama, sementara hanya 10% yang menguasai bidang teknik, kedokteran, dan sains. Padahal, penguasaan ilmu sains dan teknologi adalah kunci untuk menjadi bangsa yang maju,” tambahnya.
Menag berharap sinergi antara agama dan ilmu pengetahuan dapat membentuk masyarakat madani yang maju, mandiri, dan berdaya saing tinggi. (R)