Jakarta (buseronline.com) – Kementerian Agama (Kemenag) memperketat proses seleksi dan penilaian buku-buku keagamaan dengan menerapkan uji plagiarisme. Langkah ini dilakukan untuk memastikan orisinalitas dan kualitas isi buku yang diajukan.
Pengetatan proses seleksi ini dilaksanakan dalam kegiatan penilaian dan uji plagiarisme buku agama yang berlangsung pada 16–18 April 2025 di Serpong, Tangerang Selatan. Kegiatan ini diikuti oleh para peserta dari berbagai instansi, seperti Pusat PBAL2K Kemenag, Sekretariat BMBPSDM, Kankemenag Jakarta Utara, BRIN, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Institut KH Ahmad Sanusi Sukabumi, dan Research and Literasi Institut.
Kepala Pusat Penilaian Buku Agama, Lektur, dan Literasi Keagamaan (PBAL2K), Sidik Sisdiyanto, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentoleransi tindakan plagiarisme. “Kami ingin memastikan buku-buku yang dinilai benar-benar orisinal, sesuai kriteria, dan tidak salah klasifikasi. Kesalahan kategori akan memengaruhi akurasi penilaian,” ujarnya di sela kegiatan, Rabu (16/4/2025).
Sidik menyebutkan bahwa terdapat 14 kategori buku agama yang masing-masing memiliki instrumen penilaian berbeda. Ia juga mengingatkan agar penerbit lebih teliti dalam pengajuan karya, mengingat banyaknya kasus salah klasifikasi pada tahun sebelumnya yang menghambat proses penilaian.
Selain deteksi plagiarisme dengan perangkat lunak Turnitin, penilaian juga mencakup aspek substansi, metodologi, dan kesesuaian dengan standar keagamaan. Dua narasumber ahli, Dr Hatta Raharja dan Dr Wati Solihat Sukmawati, turut memberikan bimbingan teknis dalam proses verifikasi konten.
Buku-buku yang dinyatakan lolos seleksi akan masuk ke tahap penilaian oleh tim ahli dan supervisor. Kemenag juga menggandeng berbagai pihak, seperti BRIN, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian untuk memperkuat literasi keagamaan berbasis ilmu pengetahuan.
“Dengan sistem seleksi yang semakin ketat, Kemenag berharap dapat meningkatkan kualitas buku agama di Indonesia serta meminimalkan praktik plagiarisme dan kesalahan klasifikasi,” ujar Kasubbag TU PBAL2K, Sugeng Riyanto. (R)