23.6 C
Medan
Kamis, Februari 22, 2024

Antusiasme Warga Jerman Menyaksikan Pentas Seni Tradisional Indonesia pada Acara Fete de la Musique

Berita HariIni

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

Berlin (buseronline.com) – Sederet seniman dan musisi tradisional Indonesia sukses mengguncang panggung Fete de la Musique yang diselenggarakan pada hari Rabu 21 Juni 2023 di Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin. Departemen Seni Budaya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Berlin-Brandenburg bersama RBI sebagai penyelenggara, menyiapkan berbagai penampilan mulai dari tarian, alunan instrumen angklung, serta gamelan Jawa dan Bali.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin, Ardi Marwan, memberikan apresiasi terkait suksesnya acara Fete de la Musique yang diselenggarakan oleh PPI Berlin-Brandenburg dan RBI.

“Saya mengapresiasi usaha panitia yang telah menyelenggarakan acara ini. Tidak hanya menjadi wadah para seniman dan musisi menampilkan kebolehan mereka, tapi acara ini juga menjadi sarana terbaik mempromosikan Indonesia kepada warga negara Jerman dan warga negara lain yang ada di Berlin,“ ujar Ardi.

Edward Leonardo, Ketua Departemen Seni dan Budaya PPI Berlin-Brandenburg mengatakan bahwa acara Fete de la Musique ini menampilkan tujuh seniman dan musisi tradisional Indonesia untuk menghibur para pengunjung.

Antusias pengunjung sangat tinggi. Pasalnya, lebih dari 100 pengunjung baik Warga Negara Indonesia (WNI) dan non-WNI memenuhi aula RBI. Jumlah pengunjung yang membludak ini tidak disangka oleh panita dan pengisi acara. “Saya tidak bisa berkata-kata melihat antusiasme pengunjung yang tinggi,” ujar Edward.

Trinawangwulan Sudarga, salah satu seniman yang bertugas di RBI, mengatakan hal yang serupa terkait antusias pengunjung yang hadir untuk menyaksikan Fete de la Musique, “banyak sekali yang datang sampai orang-orang mengantre di luar, ucap Trinawangwulan.

Antrean ini turut dirasakan oleh mahasiswa Hochschule Tehnik und Wirtschaft, Geraldo Suparman. Ia rela mengantre satu setengah jam untuk masuk ke aula RBI. “Saya berangkat dari rumah pukul delapan. Saat tiba di RBI saya kaget karena antrean terlihat mengular dari pintu masuk,” kata Geraldo. Beberapa pengunjung yang sudah masuk aula pun bahkan ada yang tidak kebagian kursi dan rela duduk di lantai.

Acara dimulai dengan pertunjukkan tarian Kinang Kilaras yang ditampilkan oleh Aisha Zahra Paramartha. Wanita yang akrab disapa Mitha itu menerangkan bahwa Kinang Kilaras merupakan tarian yang berasal dari Jakarta dan relatif baru. “Tarian ini diciptakan pada tahun 2002 oleh Syarifudin atau populer dengan panggilan Kang Udin,“ terang Mitha.

Selama Mahasiswi Fachhochschule Potsdam itu tampil, para penonton terpukau dengan gerakan energik dan alunan musik yang dinamis.

Mitha mengungkapkan bahwa penampilan kali ini harus mengerahkan tenaga ekstra. “Karena mayoritas penonton yang hadir adalah orang Jerman maka harus meninggalkan kesan yang mendalam untuk mereka,” jelasnya.

Acara dilanjutkan dengan penampilan grup gamelan Lindhu Raras. Grup yang terdiri dari 20 orang itu membawakan empat lagu yaitu Puspawarna Slendro Mayor, Wileujeng Pelog 5, Salepuk Slendro Mayor, dan Langengita Srinarendra Pelog 7.

Sepanjang penampilan, penonton terhipnotis oleh alunan melodi gamelan yang mendayu-dayu.

Jana Konok, mahasiswi asal Ukraina yang merasa tenang ketika mendengar tabuhan gamelan. “Perpaduan melodi gamelan tadi sangatlah magis. Saya mendengar dengan menutup mata dan saya merasa tenang,“ ujar wanita yang berasal dari Kiev itu.

Selain itu ada juga Xiao Fu, wanita asal Republik Rakyat Tiongkok yang menyukai penampilan Lindhu Raras.

Menurutnya, setiap lagu yang dibawakan memilki ciri khas masing-masing. Namun, ini bukan kali pertama ia mendengar alunan musik gamelan. “Saya juga pernah datang ketika RBI mengadakan Worksop Gamelan empat bulan yang lalu,“ ujar mahasiswi Ostkreuz Schule für Fotografie itu.

Fete de la Musique adalah acara tahunan yang dimulai pada tahun 1982 di Perancis. Acara ini diselenggarakan serentak di seluruh dunia setiap tanggal 21 Juni untuk menyambut musim panas. Tahun ini terdapat lebih dari 200 panggung tersedia di Berlin dalam rangka menyelenggarakan acara Fete de la Musique.

Departemen Seni Budaya PPI Berlin-Brandenburg bersama RBI KBRI Berlin menjadi salah satu penyelenggara acara ini dan berkolaborasi erat dengan Deutsch-Indonesische Vereinigung Berlin.

Acara berlanjut dengan penampilan lainnya yang dibawakan oleh Kelompok tari Saman dari Indonesische Weisheit und Kultur Zentrum (IWKZ), permainan angklung yang dimainkan oleh Angklung Orchestra Berlin, tari Topeng yang dibawakan oleh Fauziatuzahra Latiefah, tari Panji Semirang yang dipentaskan RR Ambikha Duvary, gamelan bali yang dimainkan oleh kelompok Puspa Githa Pertiwi, dan menutup acara, panitia mengajak pengunjung dan para penampil bersama-sama menari poco-poco.

Sebagai penutup, Edward berharap acara Fete de la Musique dapat lebih mempererat hubungan antara Indonesia dan Jerman melalui musik dan budaya.

“Kami berharap acara ini dapat menjadi medium yang efektif untuk mempromosikan dan menampilkan budaya dan talenta Indonesia kepada masyarakat internasional,“ pungkas mahasiswa jurusan Kimia Freie Universitat Berlin itu.

Berita Lainnya

Berita Terbaru